Wedang poci
cocok di waktu pagi, siang atau malam. Minum teh dapat dilakukan sebelum
berangkat kerja agar tubuh terasa hangat dan segar sehingga menjadikan semangat
bekerja. Di siang hari pun minum teh juga nikmat. Setelah bekerja paruh hari, istirahat
siang sambil minum teh bikin pikiran plong kembali. Malam hari minum teh? Tentu
nikmat luar biasa. Minum teh akan terasa semakin nikmat jika ditemani camilan
yang renyah.
Sudah tiga
minggu belajar di rumah. Sudah tiga minggu pula tidak aktivitas gowes (naik sepeda) putar-putar Kota
Wonosari Gunungkidul. Selama itu pula tidak nongkrong bersama para pandemen (penggemar) olahraga sepeda. Kangen
nge-teh dan kumpul. Tanpa harus membuat jadwal dan janjian para pe-gowes sudah punya tempat-tempat favorit
untuk istirahat sambil nge-teh. Mereka bertemu bercerita, ngobrol, bercanda
tanpa tema. Bebas ngomong apa saja.
Selama WFH dan
ikut diklat menulis melalui WAG ternyata meningkatkan adrenalin belajar. Peningkatan
kemampuan untuk melek IT juga semakin naik. Dan mulailah mencoba menghubungi
rekan guru yang mengajar di sebuah SMK jurusan IT. Janjian bertemu untuk belajar
salah satu aplikasi. Sepakat, kami bertemu setelah pukul 12 selesai
pembelajaran online.
Dimana tempat
bertemu? Warung Woyo-woyo di Gang Kempit. Ya, warung dinamai woyo-woyo karena
bercampurnya berbagai kalangan dengan bebas, tak ada batas. Tak ada sekat dari
tukang tagih sampai pejabat. Seperti pesta. Warung ini terletak di gang yang
sempit, kanan kiri semula pekarangan kosong, tetapi sekarang mulai ada
bangunannya. Ya, jalan menuju warung ini di-kempit(diapit)
pekarangan.
Iseng-iseng sebelum
bertemu dengan teman sejawat, mencoba menghubungi tempat langganan nongkrong.
E....ternyata buka. Jadilah janjian di tempat itu. Pukul 12.12 kita bertemu.
Protokol social distancing tetap
dilakukan. Cuci tangan sebelum masuk warung, berjarak, dan bermasker.
Dua puluh menit
kemudian datang pesanan kami. Baki berisi poci kaleng warna hijau blirik, cangkir yang sudah diisi gula
batu, dan beberapa iris jeruk nipis. Tak lama menyusul satu piring beisi pisang
goreng, tempe goreng, tahu goreng, dan puli goreng. Dan lagi menyusul sepiring
pisang aril, pisang sungu tanduk) setengah
matang diiris tipis dan digoreng tanpa tepung. Menu semakin sempurna dengan
datangnya secobek sambel bawang. Pertemuan
kami semakin gayeng setelah dua anggota grup gowes menyusul. Jadilah pembicaraan tak tentu arah.
Warung
Woyo-woyo di Gang Kempit telah memuaskan adrenalin dan kangen ku. Ilmu dapet,
nge-teh juga keturutan. Alhamdulillah.
Mntap
BalasHapustop markotop....entuk sehat....entuk asupan....lanjutkan kang tunjung
BalasHapusAyooo Guspur Jak nge-teh
Hapuskoncomumu tofiq
BalasHapusWah jadi pengen nyoba Dateng ke warung woyo woyo 😀 bagus tulisannya
BalasHapus