Senin, 20 April 2020

INSPIRASI WANITA INDONESIA


Lahir dengan nama Raden Ajeng Kartini pada 21 April 1879 dari keluarga Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya bernama M.A. Ngasirah. Kartini adalah anak le-5 dari 11 bersaudara.

Hidup di  lingkungan ningrat memberinya kesempatan untuk mengenyam pendidikan ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun. Setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

 Pengaruh pendidikan yang telah dienyamnya. Kartini bisa berbahasa Belanda. Ia gemar membaca dan menulis. Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Hobinya menulis juga dilakukan dengan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya.

Dari membaca buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. 

Oleh orangtuanya, Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Setelah menikah tidak menyurutkan keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, maka ia mendirikan sekolah perempuan di kompleks kantor bupati Rembang.

Setelah melahirkan anaknya Soesalit Djojoadhiningrat, pada tanggal 13 September 1904, Kartini meninggal beberapa hari kemudianpada tanggal 17 September 1904. Ia meninggal di usia 25 tahun, masih muda.

Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Sekilas perjuangan Kartini mengilhami generasi-generasi selanjutnya hingga sekarang.

Kartini sang inspirator.







PGRI GUNUNGKIDUL PEDULI


Persatuan Guru Repubik Indonesia (PGRI) Kabupaten Gunungkidul memberikan bantuan kepada warga RT !0 RW 13 Dusun Gadungsari Wonosari yang terkena dampak pandemi Covid-19. Bantuan diberikan berupa paket sembako.

Bantuan secara simbolis diserahkan oleh Ketua PGRI Kabupaten Gunungkidul didampingi pengurus harian Nunuk Setyawati dan Tunjung Eka Putra  Bantuan diterima langsung oleh ketua RT berjumlah 50 paket sembako.

"Kami memberikan bantuan kepada keluarga yang terpapar Covid-19 dan warga sekitarnya. Semoga bantuan ini sedikit meringankan beban warga. Diharapkan tetap tinggal di rumah agar memutus rantai penularan", ujar Bahron Rasyid.

Semua ini merupakan kepedulian guru kepada masyarakat. Para guru bergotong royong memberikan sumbangan sukarela untuk diberikan kepada masyarakat baik melalui ranting dan cabang secara langsung atau melalui PGRI Kabupaten.

"Kami berharap pandemi ini segera berakhir sehingga seluruh aktivitas bisa kembali normal, para guru dan siswa dapat melakukan belajar di sekolah", imbuh Bahron.


#Hidup Guru
#Hidup PGRI
#Solidaritas Yesss!!!