Selasa, 14 April 2020

WOYO-WOYO DI GANG KEMPIT





Wedang poci cocok di waktu pagi, siang atau malam. Minum teh dapat dilakukan sebelum berangkat kerja agar tubuh terasa hangat dan segar sehingga menjadikan semangat bekerja. Di siang hari pun minum teh juga nikmat. Setelah bekerja paruh hari, istirahat siang sambil minum teh bikin pikiran plong kembali. Malam hari minum teh? Tentu nikmat luar biasa. Minum teh akan terasa semakin nikmat jika ditemani camilan yang renyah.

Sudah tiga minggu belajar di rumah. Sudah tiga minggu pula tidak aktivitas gowes (naik sepeda) putar-putar Kota Wonosari Gunungkidul. Selama itu pula tidak nongkrong bersama para pandemen (penggemar) olahraga sepeda. Kangen nge-teh dan kumpul. Tanpa harus membuat jadwal dan janjian para pe-gowes sudah punya tempat-tempat favorit untuk istirahat sambil nge-teh. Mereka bertemu bercerita, ngobrol, bercanda tanpa tema. Bebas ngomong apa saja.

Selama WFH dan ikut diklat menulis melalui WAG ternyata meningkatkan adrenalin belajar. Peningkatan kemampuan untuk melek IT juga semakin naik. Dan mulailah mencoba menghubungi rekan guru yang mengajar di sebuah SMK jurusan IT. Janjian bertemu untuk belajar salah satu aplikasi. Sepakat, kami bertemu setelah pukul 12 selesai pembelajaran online.

Dimana tempat bertemu? Warung Woyo-woyo di Gang Kempit. Ya, warung dinamai woyo-woyo karena bercampurnya berbagai kalangan dengan bebas, tak ada batas. Tak ada sekat dari tukang tagih sampai pejabat. Seperti pesta. Warung ini terletak di gang yang sempit, kanan kiri semula pekarangan kosong, tetapi sekarang mulai ada bangunannya. Ya, jalan menuju warung ini di-kempit(diapit) pekarangan.

Iseng-iseng sebelum bertemu dengan teman sejawat, mencoba menghubungi tempat langganan nongkrong. E....ternyata buka. Jadilah janjian di tempat itu. Pukul 12.12 kita bertemu. Protokol social distancing tetap dilakukan. Cuci tangan sebelum masuk warung, berjarak, dan bermasker.
Dua puluh menit kemudian datang pesanan kami. Baki berisi poci kaleng warna hijau blirik, cangkir yang sudah diisi gula batu, dan beberapa iris jeruk nipis. Tak lama menyusul satu piring beisi pisang goreng, tempe goreng, tahu goreng, dan puli goreng. Dan lagi menyusul sepiring pisang aril, pisang sungu tanduk) setengah matang diiris tipis dan digoreng tanpa tepung. Menu semakin sempurna dengan datangnya secobek sambel bawang. Pertemuan kami semakin gayeng setelah dua anggota grup gowes menyusul. Jadilah pembicaraan tak tentu arah. 

Warung Woyo-woyo di Gang Kempit telah memuaskan adrenalin dan kangen ku. Ilmu dapet, nge-teh juga keturutan. Alhamdulillah.

5 komentar: